Mencari Merdeka
BY ; Sabella Ruth MNJ;19
Berbagai masalah selalu mewarnai langit Indonesia setiap tahunnya. Entah sampai kapan masalah ini bisa teratasi karena sepertinya setiap tahun selalu saja terjadi meskipun katanya pemerintah sudah mengatasinya. Masalah seperti tindakan kriminal, kemiskinan/tindakan memalukan lainnya adalah akibat dari kelakuan orang tidak terdidik. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja terjadi di tengah semakin tingginya pendidikan warga negara Indonesia. Mereka yang berpendidikan rendah dan yang berpendidikan tinggi sama-sama demikian mengkhawatirkan. Dimana kemerdekaan sejati itu?
Anak-anak bahkan di usianya yang masih belia masih harus hidup di jalanan, atau bahkan kolong jembatan. Setiap hari harus bergelut untuk dapat membeli sesuap nasi dan sebotol air mineral. Itu pun terkadang masih kurang. Peningkatan kasus hasil hubungan di luar nikah, kriminal, pengangguran, peningkatan penyakit wilayah rawan bencana alam terus, SDA yang diambil entah sengaja atau pun tidak, kualitas mendapatkan listrik, putus sekolah. Tidak ada habisnya. Hingga semakin banyak yang telah dibawa jeblos ke dalam jeruji besi. Tempat terburuk yang ada di muka bumi ini. Apanya yang merdeka? Malah sengsara?
Saat ini Indonesia pada titik kritis dimana seluruh jajaran pemerintah sedang bergulat menentukan & membuat regulasi yang dianggap dapat membantu mewujudkan tujuan bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan yang baik, dimana manusia terdidik dipandang sebagai manusia seutuhnya, makhluk yang memiliki hak yang hakiki, yang tidak dapat dirampas keberadaannya.
Sekolah tinggi hingga bergelar doctor atau bahkan professor nyatanya belum tentu mampu mengubah kelakuan seseorang. Mungkin sekolah tinggi di Indonesia telah berhasil menghasilkan orang-orang pintar namun tidak terdidik. Buktinya koruptor yang harus mendekam di penjara dilakukan oleh bergelar sarjana bahkan professor.
Masyarakat selama ini tenggelam dalam mitos yang ditiupkan oleh oknum-oknum yang haus kekuasaan, kepentingan pribadi. Oleh karena itu pendidikan untuk masyarakat harus merintihkan pembebasan kesadaran akan antar berbicara, memancing masyarakat untuk berbicara lepas untuk mengamati dan juga merubah dunia.
Tak perlu lagi dikatakan mendalam mengenai jalan pembebasan manusia. Sudah jelas bahwa masyarakat selama ini mengalami penjajahan kesadaran.
Penjajahan kesadaran ini sebenarnya tidak hanya terjadi di kawasan-kawasan para intelektual tapi bisa saja terjadi di sekitaran kita, atau muncul di pemerintahan yang baru dengan kekuasaan. Jadi tanpa disadari kita sudah terlalu cuek oleh suatu keadaan. Padahal sesuatu yang nyaman itu terkadang adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Jadi bagaimana fenomena setiap masyarakat tertindas tanpa menyadari apa yang dia lakukan. Dan tentu juga kadang-kadang ada masyarakat itu menghayati gambaran dari masyarakat sengsara, sehingga disaat dia berada di posisi dengan benar enak, dia itu menjadi sosok penindas, itulah yang terjadi pada saat ini.
Jika sistem pendidikan formal di Indonesia segera di revisi dengan mementingkan proses tidak hanya hasil ini, akan mencetak orang-orang terdidik. Bagi orang yang terbiasa dididik dengan melihat hasil saja memang tidak akan mempedulikan bagaimana cara atau proses mendapatkannya. Tidak peduli cara benar atau tidak yang ditempuh yang penting hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
Impact dari sistem pendidikan yang mementingkan proses adalah lahir orang-orang pintar yang terdidik bukan orang pintar yang sok pintar. Proses tersebut perlu dituntun melangkah dalam bebas berekspresi. Lalu pemerintah siap menampung.
Saatnya semua pihak berjuang dan mewujudkan Indonesia sejahtera. Pendidikan bisa dimulai dari usia dini di rumah, orang tua, terutama dari diri sendiri.
Opini.pdf(unduh)