Syalom rekan sepergerakan apa kabarnya ? tentu baik-baik aja ya. Teman-teman tentu sudah tau ya kabar megenai nilai Rupiah yang kian hari semakin anjlok, bahkan sudah pernah menyentuh angka Rp. 15.000 per US Dollar. Hal ini tentu menjadi perhatian banyak ahli-ahli ekonomi dan menjadi kajian yang menarik juga buat kita mahasiswa tentunya, terutama kita mahasiswa di Fakultas Ekonomi.
Pertanyaan yang sering muncul di benak kita adalah kenapa kok bisa begitu ?, apa perekonomian Indonesia sudah sangat buruk ?, mengapa selalu Dollar yang menjadi patokan kita ? apa dampaknya bagi kita masyarakat indonesia ?. Nah pertanyaan-pertanyaan ini dan masih banyak pertanyaan lain juga telah kita bahas di Diskusi Tematis bersama pembicara kita Pak Wahyu Aryo Pramono.
Nah langsung saja, hal pertama yang harus kita pahami adalah sistem nilai tukar. Apa itu nilai tukar ? nilai tukar secara umum dapat diartikan sebagai perbandingan antara harga mata uang suatu negara dengan harga mata uang negara lain. Nilai tukar antar mata uang ini disebut juga sebagai nilai kurs, nilai kurs merupakan harga satu satuan mata uang asing dalam satuan uang dalam negeri. Atau dengan kata lain kurs merupakan harga suatu mata uang apabila ditkarkan dengan satuan mata uang lainnya.
Sistem nilai tukar itu ada 3 dimana masing-masing memiliki karakteristik dan perbedaan, apa saja itu yaitu sistem nilai sistem kurs tetap ( fixed exchange rate), Berikut adalah pembahasan lengkap mengenai ketiga sistem ini.
Sistem Nilai Tukar
1. Fixed exchange rate system
Kurs suatu mata uang (rupiah) terhadap mata uang lain (dolar) ditetapkan pada nilai tertentu. Pada kurs ini bank sentral akan siap sedia melayani seluruh kebutuhan devisa yang diperlukan oleh pasar. Apabila tingkat kurs tsb tidak lagi dapat dipertahankan, maka bank sentral melakukan “devaluasi” atau “revaluasi” atas tingkat kurs yang ditetapkan.
Penetapan nilai kurs tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
- Pegged to a currency, apabila kurs ditetapkan terhadap suatu mata uang lain (Hongkong, China, Singapore).
- Pegged to a basket, apabila kurs ditetapkan terhadap sekeranjang mata uang lain dengan bobot tertentu sesuai dengan besarnya hubungan perdagangan dan investasi.
- Currency board system, apabila penetapan kurs tersebut dibarengi dengan pembatasan bagi bank sentral dalam mengedarkan uang sebesar (nilai ekuivalen) cadangan devisa yang dimilikinya.
Di dunia ada sekitar 66 negara yang mematok mata uangnya terhadap USD. Mengapa?
a) Mata uang USD adalah mata uang yang banyak diperdagangkan di dunia (lebih stabil)
b) Sumber penerimaan utama ekspor-impornya menggunakan USD.
c) Mata uang USD paling banyak diperdagangkan di pasar uang internasional (hard currency)
Kekurangan Pegged Currency:
1) Harga ekspor kurang berdaya saing (jepang dan China tetap menjaga mata uangnya memiliki nilai tukar rendah.
2) Ketika pegged currency system dicabut, maka akan menyebabkan ekonomi daerah lebih parang seperti Rusia (197), Argentina (2002).
2. Managed floating exchage rate system
Kurs dibiarkan bergerak dalam batas tertentu sesuai dengan pita intervensi (intervention band) yang ditetapkan bank sentral.
-
- Apabila kurs bergerak menembus batas atas atau batas bawah dari pita intervensi, secara otomatis bank sentral akan membeli atau menjual devisa yang diperlukan oleh pasar sehingga kurs bergerak dalam batas pita intervensi.
- Penetapan lebarnya pita intervensi tergantung pada besarnya cadangan devisa yang dimiliki serta kemungkinan kebutuhan yang terjadi di pasar. Umumnya akan disesuaikan dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan cadangan devisa dan volume transaksi di pasar valas.
3. Free floating exchange rate system,
Kurs dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Bank sentral dapat melakukan intervensi di pasar valas untuk mempengaruhi pergerakan kurs di pasar, akan tetapi umumnya hanya dilakukan pada saat-saat tertentu misalnya bila terjadi gejolak kurs yang berlebihan dalam waktu yang sangat singkat.
Masing-masing sistem nilai tukar mempunyai kelebihan dan kelemahan. Pemilihan sistem yang diterapkan akan tergantung pada ituasi dan kondisi negara ybs, khususnya :
- Besarnya cadangan devisa yang dimiliki,
- Keterbukaan ekonomi,
- Sistem devisa yang dianut (bebas, semi kontrol, atau kontrol),
- Besarnya volume dan kondisi (market liquidity) pasar valas domestik.
Sistem Kurs Tetap
- Membutuhkan cadangan devisa yang besar, karena keharusan bagi bank sentral untuk mempertahankan kurs pada level yang ditetapkan.
- Diterapkan di negara yang mempunyai cadangan devisa besar, dengan sistem devisa yang masih relatif dikontrol.
- Cenderung menimbulkan moral hazard dalam dunia usaha, karena dengan kurs yang tetap dunia usaha cenderung tidak melakukan lindung nilai risiko kurs.
Sistem Kurs Mengambang Bebas
- Tidak memerlukan cadangan devisa yang besar karena bank sentral tidak harus mempertahankan kurs pada suatu level tertentu.
- Dapat menciptakan disiplin mekanisme pasar karena ketidak-seimbangan permintaan dan penawaran valas akan disesuaikan sendiri dalam bentuk kurs yang terjadi di pasar.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURS
- Faktor fundamental ( ekonomi dan non ekonomi)
- Faktor teknis
- Kondisi pasar (market microscructure)
- Kenaikan harga umum (inflasi)
- Pertumbuhan ekonomi
Berikut Inforafis keadaan nilai tukar Rupiah dari tahun 1998-2018
Keadaan nilai tukar rupiah dari 1998-2018