ERO CRAS

Jasvhandy Pandia EP’19

 

Di rumahku ada pohon natal, namun di rumah tetanggaku tidak pernah terpasang pohon natal karena mereka tidak tahu itu benda macam apa. Seyampang advent ini, aku ikut berbenah untuk menghias pohon natal. Mulai dari bersih-bersih, hingga menyematkan berbagai macam warna mencolok yang aku sendiri pun tidak tahu apa maknanya. Ketika ada yang bertanya, ” untuk apa itu semua harus ada?” aku hanya menjawab ”entahlah, karena memang sudah dari dulu begitu “.

Pernah diriku masuk ke pusat belanja, pohon natal juga ada disana terpasang dengan tegak dan megah, terpajang sempurna yang membuat mata ini terpanah. Sejenak aku abai selaksa peristiwa. Akupun bertanya kepada penyelia ruang pamer, “ini untuk apa?”, namun jawabannya tetap sama, “entahlah, karena sudah dari dulu memang begitu”. Aku juga pernah bertanya kepada orang dewasa di gerejaku, tentang apa arti pajangan lingkaran bersalut dedaunan hijau, apa arti dua lilin ungu dan satu lilin merah jambu pada minggu advent ketiga, berbaur teratur dengan riuhnya ritus-ritus invokasi, responsori, dan antifoni berlanjut homili, tetapi jawabnya juga sama, “entahlah, kerena sudah dari dulu memang begitu “.

Rasa ingin tahuku berujung henti tuk baca sebuah resensi liturgika, kalau Advent adalah suatu interupsi waktu, guna renungan ulang sebuah misteri Ilahi. Pernah terjadi inkarnasi Allah menjadi manusia untuk selamatkan semua umat. Dia mati, Dia bangkit, Dia naik kesurga. Dia akan datang menghakimi tanpa membuat janji untuk menghampiri. Bersiaplah menanti dan bersiaplah diadili. ” ERO CRAS ” yang berarti ” AKU DATANG ”. Sebuah janji pasti mengajak diri bertobat merubah laku buruk, menyadarkan diri lewat aksi refleksi dan ikut daraskan antifoni O.

O Sapientia ; O Tuhan, yang bijaksana, datanglah dan bimbinglah langkah kami.

O Adonai ; O Tuhan, pemimpin kami yang memberikan hukum-Mu, datanglah dan bebaskanlah kami dengan lengan perkasa-Mu.

O Oriens ; O Tuhan, cahaya abadi dan surya keadilan, datanglah, terangilah mereka yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut.

Sebuah refleksi berlanjut kontemplasi menghenti aksi oposisi menentang nurani, berhentilah semua rancangan dan permukatan jahat yang sempat dihelat cermat, bersama penggiat. Didukung para penjilat, yang sempat termakan budi walau cuma setakat, berakibat lupa aman untuk mengemban mandat mengabaikan akad postulat. Sehingga ketika orang lain bertanya untuk apa ibadah advent digagas, tak lagi kita mengulang-ulang jawaban yang sama yaitu, ”entahlah, karena sudah dari dulu memang begitu ”.

0 0 vote
Article Rating