HARAPAN BARU TELAH DATANG
Fernando. S EP’16
Natal di 2020 ini berbeda dari tahun tahun sebelum nya, namun hanya sedikit perbedaan nya, tidak jauh. Yang berbeda hanya terletak pada suasana natal yang dulu riuh dan ramai, pesta yang meriah, sentuhan dan tatapan kebahagian dari kita yang merayakan momen ini dengan sangat bersukacita, namun sekarang tidak kita jumpai lagi momen yang sama karena pandemi besar yang sedang melanda dunia. Tidak sedikit dari umat kristiani di seluruh dunia yang bahkan tidak bisa menggelar atau menghadiri kegiatan natal, ada pula yang bisa menggelar natal, namun sangat dibatasi dalam hal jumlah massa dan durasi nya oleh pihak yang berwenang dengan tujuan mengindahkan Protokol Kesehatan, tergantung status daerah dimana kita tinggal. Dilansir dari TEMPO.CO per 19 Desember 2020, sejumlah negara-negara di Eropa memilih untuk memperketat Pembatasan Sosial dan Wilayah (lockdown) selama perayaan natal dan tahun baru guna mencegah terjadinya gelombang ketiga penyebaran Covid-19. Di Italia misalnya, negara dengan jumlah kasus positif Covid-19 mencapai hingga 1,8 juta orang dan 65 ribu orang meninggal dunia ini menyatakan melakukan lockdown yang berlaku mulai 21 Desember hingga 6 Januari demi menghindari kluster baru pada perayaan Natal dan Tahun Baru. Di Jerman, yang kasus positif nya capai 1,3 juta orang, menetapkan lockdown dari 16 Desember hingga 10 Januari, namun memberikan kelonggaran pada 24-26 Desember untuk setiap warga jerman bertamu atau menerima tamu namun maksimal hanya sebanyak 4 orang. Sama hal nya dengan Indonesia yang jumlah kasus positif nya per 19 Desember 2020 mencapai angka 657.948 (+7.751 kasus di hari tersebut), sejumlah daerah terkhusus daerah dengan status zona orange dan merah, menutup dan membatasi keramaian yang kemungkinan besar akan terjadi selama Natal dan Tahun baru demi mencegah potensi kluster baru Covid 19 di Indonesia. Menutup diri dan menghindari keramaian dalam merayakan natal dan tahun baru di tahun ini akan jadi solusi yang cukup efektif di tengah keadaan saat ini, sehingga sejauh ini kita dapat mengeneralisir bahwa mayoritas umat kristiani di seluruh dunia, merayakan natal dengan situasi yang berbeda.
Natal adalah waktu untuk memberi dan saling berbagi
Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil untuk hidup bagi diri sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia (Matius 5:16). Oleh karena itu, hadirnya pandemi ini adalah momen yang amat baik bagi kita untuk semakin mempertegas dan menguatkan rasa kemanusiaan kita meski keadaan kita dan orang orang di sekitar kita tidak sedang baik baik saja. Apa yang membuat saya mengatakan bahwa natal tahun ini hanya berbeda sedikit dari natal tahun sebelumnya terletak pada metode dan selebrasinya yakni kemeriahan seluruh umat kristiani yang biasanya terjadi selama momen natal dan tahun baru, harus terhenti karena pandemi. Namun, tidak meriah nya kita merayakan natal tahun ini tidak mengubah sedikit pun makna natal yang seharus nya sudah kita imani meski bagaimanapun situasi dunia saat ini. Natal seharusnya tetap berkesan bagi kita meski kita tidak lagi merayakan nya di gereja dengan jumlah massa yang besar. Natal seharusnya tetap berkesan bagi kita meski kita merayakan nya dirumah saja, tidak ada barbeque party, tidak ada saling tukar kado natal, tidak dapat luckydraw natal, tidak bisa ber swafoto di atas panggung dan dibawah pohon natal besar, dan keseruan keseruan lain nya yang biasa kita temukan di kegiatan natal sebelum pandemi melanda, karena kelahiran Nya akan selalu kita maknai sebagai sebuah bentuk kasih, kerendahan hati, dan pengorbanan besar dan itu berlaku selama lama nya, tidak pernah berubah dan kekal sepanjang waktu. Sehingga, tugas kita lah untuk menyampaikan kabar baik ini, kepada semua orang yang menyebut diri nya pengikut kristus, kepada semua orang yang percaya, untuk semakin menguatkan dan meyakinkan kita pada janji eskatologis yang Allah berikan pada kita orang orang percaya. Ini kita lakukan sebagai bentuk kesadaran kita bahwa kita tidak hidup untuk diri sendiri, tapi hidup untuk jadi berkat bagi orang lain, saling menguatkan dan memberitakan kabar kabar baik, memberikan energi positif dan semangat baru bagi sesama kita dalam upaya berjuang di tengah krisis yang melanda dunia dewasa ini.
Pada malam kelahiran Yesus, Yusuf dan Maria tidak mendapat penginapan. Sampai ada seseorang yang membagikan palungan sederhana sebagai tempat bayi Yesus dibaringkan pertama kali, di sebuah kandang domba beralaskan jerami. Ia tidak mencari kemewahan di dalam dunia, tetapi Ia menanti hati yang rindu untuk membagikan apa yang kita punya, dan kita berikan dengan sepenuh hati. Ini juga menjadi alasan kita memaknai momen natal ini dengan sikap saling berbagi. Bagaimana pun juga, keadaan dunia yang sangat kacau ini tetap saja mengharuskan kita untuk saling berbagi. Di situasi yang sesulit ini, mungkin banyak dari kita yang bahkan tidak aware terhadap lingkungan sekitar yang sedang tidak kondusif, masalah sosial ekonomi yang menghampiri mayoritas penduduk dunia terkhusus Indonesia membuat kita lepas tangan dari kewajiban kita untuk saling memberi dan mengucap syukur atas apa yang kita punya. Kita terlalu banyak khawatir, cemas dan takut akan hari esok. Saya mengutip penggalan lagu yang berjudul “Tuhan Berapa Lama Lagi” ( Pontas Purba, 2005 ) yang bunyi nya seperti ini “ Sampai kapankah aku kuatir, sampai kapankah aku bersedih, Tuhan berapa lama ku dilupakan, Tuhan berapa lama lagi kau bersembunyi dari ku.” Yang di mana lagu ini berasal dari kisah Daud yang menghadapi penderitaan dan cobaan yang begitu besar dan berseru kepada Tuhan serta terus menerus bertanya kapan penderitaan nya akan berakhir (Mazmur 13) tentu hal ini serupa dengan kondisi yang kita hadapi sekarang yang mungkin membuat kita menganggap bahwa Allah meninggalkan kita, membiarkan kita takut dan khawatir terhadap pandemi besar yang masih melanda kita hingga Desember 2020 ini. Namun, hal yang tetap ada dan akan selalu ada bagi kita adalah rancangan hari depan yang penuh harapan. Harapan baru akan selalu ada dan menyertai kita dalam menjalani kehidupan meski dalam tantangan dan pencobaan yang besar, sebab sukacita natal, dan kabar Kelahiran-Nya ke dunia jauh lebih besar dari masalah apapun yang dunia ini hadapi. Tetap berpegang teguh, tetap memberi yang terbaik dalam menyambut dan memaknai kedatangan Yesus ke dunia.
Soli Deo Gloria