Layakkah Kita Sejahtera?
BY : Lamtiur S MNJ’17
Benarkah Indonesia salah satu Negara terkaya di Dunia? Jika benar, Kaya akan apa? Kaya akan penduduk yang miskin? Kaya akan kawasan kotor dan penuh sampah? Sekedar informasi, Indonesia menduduki peringkat 2 dunia penghasil sampah plastik pada laut setelah Negara China.
Wahhhh. Hebat. Indonesia masuk peringkat kedua dunia.
Tidak. Kita tidak selayaknya berbangga diri atas peringkat tersebut. Berada pada posisi teratas dengan menduduki kategori negative sangatlah memalukan. Ibarat, kamu telah dijuluki sebagai manusia ternakal, manusia terjahat dan lain sebagainya. Apakah itu suatu hal yang membanggakan? Tentu tidak. Itu hanya akan merusak citra dirimu dimata umum.
Sesungguhnya, Indonesia adalah Negara yang kaya. Dilihat dari pendapatan per kapita warga negara, hingga besarnya Pendapatan Domestik Bruto. Dari 193 Negara yang diakui PBB, Indonesia berada pada posisi ke-98 sebagai Negara terkaya dengan PDB sebesar 13.998 dollar AS. Ya, Indonesia memang kaya. Orang-orang bahkan mengatakan bahwa Indonesia adalah tanah surga. Bayangkan saja tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Wahhh. Sungguh menyenangkan lahir dan tinggal di tanah surga ini. Harusnya dengan kekayaan saat ini, masyarakat Indonesia sudah hidup jauh dari kemiskinan.
Faktanya, para pakar menyatakan bahwa hanya 10% Sumber Daya Alam berkontribusi sedangkan 90% nya lagi adalah Sumber Daya Manusia. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 26,42 juta jiwa. Angka ini masih data makro dalam bentuk agregat, yang paling rendah levelnya adalah kabupaten/kota. Hal ini berarti masih banyak penduduk miskin yang belum terdata. Dapat kita lihat melalui penyaluran bantuan sosial yang tidak tepat sasaran. Tentu keterbatasan data juga berpengaruh pada berbagai program pemerintah dalam mengentas kemiskinan.
Secara umum, kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan sandang dan pangan. Kemiskinan juga dapat diartikan sebagai ketidaksejahteraan dan perampasan terhadap kebebasan untuk mencapai sesuatu dalam hidup.
Kesenjangan ekonomi memang masih sangat tinggi di Indonesia. Global Wealth Report 2020 menempatkan Indonesia di posisi ke 4 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia. Lagi dan lagi Indonesia masuk 5 besar peringkat dunia, namun bukan untuk hal yang membanggakan. Boston Consulting Group di tahun 2018 mencatat bahwa 10 % orang terkaya di Indonesia menguasai 75,3% dari total kekayaan penduduk Indonesia. Indonesia dikenal dengan sistem yang kaya akan menjadi sangat kaya dan yang miskin menjadi sangat miskin. Sangat miris bukan?
Salah satu cara pemerintah untuk mengentas kemiskinan adalah dengan cara meningkatkan mutu pendidikan. Lembaga pendidikan dituntut untuk menghasilkan bibit-bibit unggul. Namun ketika sudah selesai mengenyam pendidikan malah menjadi pengangguran. Katanya, jumlah lapangan kerja sedikit. Tapi kok jumlah tenaga kerja asing di Negara berflower ini semakin meningkat? Aneh bukan?
Ya, sangat aneh bagi mereka yang tidak paham. Penggunaan tenaga kerja asing bertujuan untuk mengisi kekosongan tenaga kerja terampil dan profesional di bidang tertentu yang tidak dapat diisi oleh tenaga kerja Indonesia. Hal ini berarti kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia masih rendah. Bukan hanya dari tenaga kerja asing, perusahaan asing juga semakin banyak berdiri di Indonesia. Bukan berarti Indonesia menjual hak milik Indonesia ke perusahaan asing. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan nasional dengan mempercepat alih ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga dapat meningkatkan investasi asing sebagai penunjang pembangunan di Indonesia. Pembangunan Indonesia ini melibatkan segala aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Beberapa hal tersebut demi mencapai kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang lebih maju juga sejahtera. Ya. Kita sangat layak untuk sejahtera.
Oleh karena itu, mari kita sebagai generasi bangsa mengisi diri dengan hal-hal yang positif, menyiapkan diri menjadi pribadi yang berakhlak mulia, siap dibentuk menjadi tenaga kerja yang ulet dan tahan uji serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, kita juga harus saling bersatu mendukung pemerintah agar setiap program yang telah dirancang pemerintah untuk kesejahteraan bersama dapat terwujud.
Opini,pdf (unduh)