Berita - Tim Pers

Diterbitkan oleh Tim Pers GMKI FEB USU

Sabtu, 5 Desember 2020

MEDAN – Berita dari Hasil Diskusi Kampus II oleh Pengurus Komisariat GMKI FEB USU. Dengan tema “Peluang dan Tantangan Mahasiswa dalam Menghadapi Era Distrupsi Teknologi” ( Rabu, 2/12/2020, 17.20 WIB ).

Diketahui bahwa di era 4.0 kita dihadapkan dengan disrupsi teknologi. Hal ini menjadi peluang serta tantangan bagi mahasiswa. Dapat dilihat melalui diskusi kampus II yang diselenggarakan oleh pengurus komisariat GMKI FEB USU, melalui virtual dengan menggunakan aplikasi zoom. Dibawakan oleh abangda Hotman Nainggolan, S.E., M.H. selaku pembicara dan Veronica Sinaga (Biro Aksi dan Pelayanan) selaku moderator.

Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (2019), mengatakan bahwa disrupsi merupakan sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru. Namun, inovasi dalam konteks disrupsi bukan inovasi dalam pengertian lama, sebagai doing the new things. Artinya, sebuah lompatan perubahan dalam hal inovasi yang mengandalkan teknologi informasi (TI) dan artfisial intelijen (AI) di dalamnya.

Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution dengan adanya transaksi data yang besar, Smart Factory, Virtual Reality yang jika digabungkan akan menjadi suatu perubahan yang besar. Majalah Warta Ekonomi (1 /11/ 2017) diperkirakan dalam 10 tahun mendatang, ada sepuluh pekerjaan yang akan hilang, setidak tidaknya tidak dibutuhkan lagi, yaitu : Post Office Worker, Loan Officer, Cashier, Bank Teller, Insurance Salesperson, Telemarketing, Lecturer, Travel Agent, Librarian, Fast Food Worker. Dari sepuluh pekerjaan yang akan hilang dalam sepuluh tahun mendatang tersebut, dapat kita lihat ada empat bidang pekerjaan yang langsung berkaitan dengan industri perbankan, yakni : Loan Officer, Cashier, Bank Teller dan Telemarketing.

Source: wartaekonomi.co.id

Saat ini, banyak perusahaan yang bergerak di bidang keuangan/perbankan yang masih berkutak-katik dalam (fase III) dengan melakukan berbagai transformasi yang cenderung berkepanjangan. Sehingga, gagal dalam beradaptasi dengan perkembangan pasar dan era baru (fase IV) yang begitu sangat cepat datang mendahului fase transformasi yang sedang dilakukan.

Saat ini kita telah dilanda pandemi covid-19 yang di mana, karyawan bekerja dari rumah / WFH (Work From Home). Itu artinya, kantor perusahaan atau gedung perkantoran sudah menjadi tidak relevan. Perusahaan akan banyak beroperasi tanpa kantor (Branchless Operation), Kantor akan banyak yang ditutup dan tenaga kerja juga akan dikurangi.

Sebagian besar, jenis bisnis yang akan lahir dan berkembang cepat pasca COVID-19 ini adalah bisnis yang digerakkan atau berbasis oleh teknologi online. Kehadiran Teknologi Artificial Inteligency ini dan adanya kecenderungan perilaku distancing sesuai new norm pasca covid-19 akan mempercepat hadirnya layanan yang berbasis AI.

Dunia telah berubah drastis dan radikal, disadari atau tidak Covid-19 telah mempercepat hadirnya berbagai perubahan di bidang TI dan AI. Langkah-langkah yang harus ditempuh bukan lagi semata-mata sebagai langkah antisipatif, tetapi sudah harus langkah adaptif. Untuk itu, mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan melakukan transformasi ke dalam diri sendiri. Melalui reorientasi mind set, menangkap peluang perubahan bisnis dari Owning Economy menjadi Sharing Economy, kreatif dalam memanfaatkan TI, Membangun karakter (Character Building) menjadi jati diri seseorang harus diperkuat untuk menghadapi era disrupsi ini, karena karakter tidak dimiliki oleh AI. Serta mengembangkan entrepreneurship skill melalui inovasi dan konsep efisiensi hingga produktivitas pada gilirannya hanya bisa untuk bertahan saja, tetapi untuk memenangkan persaingan diperlukan inovasi, kreativitas, dan pengusaha.

 

0 0 vote
Article Rating