Penyembuh Yang Terluka
Alam semesta dan segala isinya tidak pernah luput dari sebuah kata “masalah”. Setiap orang hidup dan kehidupan nya selalu mengalami problematika, lingkaran masalah ini sudah menjadi lingkaran setan yang terus berlanjut dari satu masalah kemasalah yang baru. Tidak jarang juga ketika seseorang dalam sebuah masalah yang sangat rumit selalu merasa hidup tak ada artinya dan terkadang berkata: “Aku benci dunia ini, dunia ini kejam sekali”.
Dunia menjadi tameng utama untuk menyalahkan keadaan. Namun pada sejatinya dunia ini sudah tercipta baik seperti penuturan kitab kejadian. Mulai dari penciptaan langit dan bumi dan segala isinya, hingga menciptakan manusia dihari terahkir. Semua Tuhan ciptakan dengan sempurna tanpa ada kekurangan.
Ada banyak sekali masalah yang telah terjadi didunia, tapi sesungguhnya yang bermasalah bukan dunia melainkan manusia. Iya manusia! Aku dan anda. Kita semua!! Stop menyebutkan dunia punya masalah, tapi manusia itu sendiri yang penuh dengan masalah!
Kita selalu berdoa untuk perubahan dunia, bukan? Menyuruh Tuhan mengubah dunia yang diawal kitab kejadian Tuhan sudah menciptakan segala sesuat dengan sangat baik. Manusia lah yang seharusnya berubah, bukan dunia! Berbuatlah untuk menyelesaikan masalahmu, masalahku. Masalah manusia! Bukan masalah dunia. Sebab menghindari manusia yang bermasalah sama gilanya dengan diri sendiri yang selalu hidup dari ruang lingkup masalah.
Banyak orang yang sangat antusias untuk menyelesaikan masalah. Krisis kesehatan akibat pandemi mengakibatkan orang-orang atau bahkan instansi melakukan kegiatan aksi sosial berbagi makanan kebutuhan pokok atau sekedar membagikan masker kepada masyarakat dipinggiran jalan. Banjir ibukota diatasi dengan pembangunan kanal, mengurangi polusi dilakukan dengan program car free day untuk mengatasinya. Dan masih banyak sekali permasalahan yang terjadi di bawah langit ini.
Tetapi selama permasalahan tersebut hanya dipikirkan untuk mengurangi dampaknya, disaat permasalahan itu tengah terjadi, hal tersebut hanya solusi jangka pendek yang tidak akan berlanjut justru suatu saat akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Berhadapan dengan krisis kesehatan pandemi, bukan virus nya yang bermasalah. Berhadapan dengan sungai yang kotor, bukan kotor airnya yang masalah. Berhadapan dengan polusi udara bukan udaranya yang bermasalah. Tetapi MANUSIA nya yang bermasalah.
Kita pernah terluka. Mungkin dinista, dibully, atau teraniaya karena sikap diri sendiri atau orang lain. Jangan berpikir untuk berlari meninggalkan masalah, atau berhenti tanpa aba-aba untuk menunggu, apalagi untuk membunuh diri sendiri secara baik. Namun kita harus menjadi “Penyembuh Yang Terluka”.
Penyembuh yang terluka adalah logika yang terbalik.
“Terluka kok penyembuh”.
“Luka diri sendiri saja tak mampu diobati bagaimana mengobati luka orang lain”.
Tapi realita didunia ini penyembuh yang terluka sangan dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah manusia. Kita dapat memilih dua pilihan berhenti atau terus berjuang. Seperti Judas Iskariot menyerah, dan dia bunuh diri. Simon Petrus terus menantang serta melanjutkan perjalanan dan dia menjadi rasul. Diantara dua pilihan: Menjadi Judas atau Petrus!
Untuk itu, masalah yang dialami oleh manusia, Masalah yang telah menjadi lingkaran setan dalam kehidupan, dapat diselesaikan dengan kehadiran manusia itu sendiri sebagai penyembuh.
Karena manusia bermasalah itulah yang salah. Akan tetapi, akan menjadi benar ketika manusia itu hadir sebagai penyembuh.