KEMISKINAN DAN KETIMPANGAN EKONOMI DI SUMATERA UTARA
Untuk lebih meningkatkan pengetahuan tentang permasalahan ekonomi yang ada di Sumatera Utara maka pengurus komisariat GMKI FEB USU mengadakan program Diskusi Tematis. Pada Senin, 21 Oktober 2019 dilaksanakan program Diskusi Tematis I dilaksanakan di Aula PKM GMKI Medan dimulai pada pukul 13.15 WIB dan dihadiri 30 orang. Diskusi Tematis I dengan tema “Kemiskinan dan Ketimpangan Ekonomi di Sumatera Utara” dibawakan oleh Dr. Pantas H. Silaban M.B.A. sebagai pemateri dan Kartika Lubis sebagai moderator. Dalam penyampaian materinya, ada beberapa poin penting yang disampaikan pemateri terkait kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di Sumatera Utara.
Beberapa defenisi kemiskinan dan ketimpangan menurut para ahli :
- Hall dan Midgley, kemiskinan adalah kondisi deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup dibawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi dimana individu mengalami deprivasi relative dibandingkan dengan individu lainnya dalam masyarakat.
- Faturachman dan Marcelinus Molo, kemiskinan adalah ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun non material.
- Budi Winarno, ketimpangan merupakan dari kegagalan pembangunan di era globalisasi untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis warga masyarakat.
- Andrino A. Chaniago, ketimpangan adalah buah dari pembangunan yang hanya berfokus pada aspek ekonomi dan melupakan aspek sosial.
Faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan antara lain :
- Laju Pertumbuhan Penduduk, yaitu angka kelahiran yang tinggi akan mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk suatu negara menjadi besar. Bila laju pertumbuhan ini tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi, maka hal ini akan mengakibatkan angka kemiskinan semakin meningkat.
- Angka Pengangguran Tinggi, yaitu masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah cenderung tidak memiliki ketrampilan, wawasan, dan pengetahuan yang memadai. Sehingga mereka tidak bisa bersaing dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi di dunia kerja maupun di dunia usaha. Hal ini kemudian membuat angka pengangguran dan kemiskinan semakin bertambah.
- Bencana Alam, merupakan faktor penyebab kemiskinan yang tidak dapat dicegah karena berasal dari alam. Bencana alam seperti tsunami, banjir, tanah longsor, dll. Akan menimbulkan kerusakan pada infrastruktur maupun psikologis masyarakat sehingga mereka mengalami kemiskinan karena kehilangan harta.
Faktor- faktor penyebab ketimpangan antara lain :
- Wealth, dimana kaum elit memiliki asset keuangan seperti property atau saham yang ikut mendorong ketimpangan saat ini dari masa depan.
- Gender , masih terdapat ketimpangan gender adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan masih banyaknya diskriminasi dalam memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
- Aset, kepemilikan asset dapat menjadi salah satu faktor penentu ketimpangan. Tanpa asset produktif yang memadai, masyarakat ekonomi terbawa tidak dapat keluar dari kemiskinan.
- Pendapatan, timpangnya pendapatan menyebabkan kekayaan terkonsentrasi pada sekelompok kecil masyarakat.
- Kesempatan , dikarenakan setiap individu memiliki kesempatan yang berbeda, golongan atas memiliki kesempatan lebih besar ketimbang golongan bawah sehingga jika peluang kesempatan yang dimiliki oleh golongan atas lebih besar, maka si kaya makin kaya, si miskin makin miskin. Dan hal tersebut menimbulkan ketimpangan antara si kaya dan si miskin.
Angka kemiskinan di Sumatera Utara mengalami sedikit penurunan dari 9,28% pada September 2017 menjadi 9,22% pada Maret 2018. Angka ini setara dengan jumlah penduduk miskin yang berada pada kisaran 1.324.980 ribu jiwa. Pada Maret 2018 hanya berkurang sekitar 1,6 ribu jiwa dalam satu semester terakhir dan 1.326.570 ribu jiwa pada September 2017. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata penduduk miskin cenderung semakin menjauhi garis kemiskinan dan tingkat ketimpangan penduduk miskin semakin meningkat.
Kemiskinan bukan hanya diukur dari materi tetapi juga rasa kasih setiap individu. Berkurangnya rasa empati kita terhadap sesama juga salah satu bentuk kemiskinan. Oleh karena itu, milikilah hati ‘’PANTAS MAROHA!’’