Resume Penelaahan Alkitab 2

  • Tata Pelaksanaan

Telah terlaksananya Penelaahan Alkitab ke II oleh pengurus komisariat GMKI FEB USU yang dilaksanakan pada sabtu, 28 November 2020, dengan tema “Memaknai Keadilan dari Perspektif Kristen” yang diambil dari Matius 26:31-46. Kegiatan Penelaahan Alkitab kali ini dibawakan oleh Bapak Pdt.Adventus Nadapdap, Kepala Departemen Litbang HKI. Penelaahan Alkitab berlangsung dari pukul 16.25 hingga pukul 18.31 Wib. Penelaahan Alkitab kali ini diikuti sebanyak 27 orang dilihat dari absensi Google Form yang diisi oleh peserta, yang telah dipersiapkan oleh pengurus komisariat. Peserta yang hadir dalam Penelaahan Alkitab, terdiri dari pengurus komisariat sendiri, kemudian anggota GMKI FEB USU dan mahasiswa baru FEB USU 2020.

Penelaahan Alkitab diawali dengan salam pembuka oleh moderator, Lidya Tinambunan (Wasek bidang Pendidikan Kader dan Kerohanian), diikuti dengan memimpin doa pembuka. Selanjutnya, moderator memberikan kesempatan kepada pembicara Bapak Pdt.Adventus Nadapdap,Sth untuk memaparkan materi Penelaahan Alkitab. Dalam pemaparan tersebut, diputar video melalui Youtube yang berjudul, “Lara di hutan Papua : Ancaman serius pembukaan lahan demi sawit” dari media massa BBC News Indonesia. Setelah selesai memberikan pemaparan, moderator membuka sesi diskusi dan mempersilahkan peserta untuk memberikan tanggapan. Dalam sesi diskusi terdapat 6 tanggapan, berupa pertanyaan yang disampaikan oleh peserta diskusi. Setelah sesi diskusi berakhir, moderator kemudian memimpin audiens untuk menyanyikan lagu pujian berjudul, “Kasih Allahku Sungguh T’lah Terbukti”. Setelah selesai menyanyikan lagu pujian, moderator kemudian mempersilahkan pembicara untuk memberikan closing statement, dan kemudian moderator menutup Penelaahan Alkitab kali ini dengan memberikan kesimpulan dan membawakan doa penutup.

  • Resume Materi

Memaknai Keadilan dari Perspektif Kristen (Matius 26:31-46)

Keadilan dan kejujuran adalah bagian tabiat Allah. Salah satu karakter Tuhan yang Alkitab tunjukkan adalah Allah yang adil. Dalam menegakkan keadilan-Nya, Allah bersikap sangat tegas tanpa kompromi. Ia bukan Pribadi yang lemah, yang bisa diatur dan dikuasai dan tidak berpendirian, tetapi sebaliknya, Allah adalah Allah yang tegas dalam keputusan dan berintegritas tinggi terhadap diri-Nya sendiri dalam menegakkan keadilan-Nya. Dalam Matius 26 :31-46 dikatakan bahwa Yesus adalah hakim pada akhir jaman, yang kemudian menunjukkan bahwa ia adalah Allah itu sendiri. Pada kedatangan Yesus yang kedua kalinya ia akan menjadi hakim yang adil unuk penghakiman terakhir kelak. Untuk itu Yesus menggunakan simbol sebagai tanda untuk membedakan milik Allah dari yang bukan milik Allah. Simbol domba mengacu kepada orang benar yang berbagian dalam Kerajaan Allah. Sedangkan simbol kambing menggambarkan mereka yang terkutuk dan mengalami hukuman kekal (32-34, 41, 46). Semua bangsa di dunia akan menerima penghakiman terakhir, tak terkecuali pengikut Kristus itu sendiri.

Mazmur 72 bercerita tentang raja Salomo yang berdoa kepada Tuhan memohon karunia keadilan dan kebenaran kepada-Nya dalam memerintah bangsa Israel. Mazmur 72 memiliki tiga hal yang menjadi inti doa dari sang pemazmur, yakni :

  1. Ayat 1-4 (Harapan akan tegaknya hukum, keadilan dan kedamaian),
  2. Ayat 5-11 (Kekuasaan yang kokoh dan disegani), dan
  3. Ayat 12-17 (Harapan akan berkat).

Dalam doa permohonan sang pemazmur, terdapat dua suara yakni suara keadilan dan suara kekuasaan. Pemazmur menyadari bahwa raja itu adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan diri dan keterbatasan khidmat untuk memimpin rakyatnya sehingga dia meminta agar Tuhan memberikan hukum dan keadilan dari Tuhan. Dengan keadilan yang dari Allah, ia akan dimampukam untuk menyatakan keadilan untuk setiap rakyatnya yang miskin dan tertindas oleh karena penindasan dan pemerasan. Oleh karena hikmat yang daripada Allah, perwujudan damai sejahtera dalam pemerintahannya beroleh berkat kemurahan yang daripada Allah saja. Dalam doanya sisi yang lain pemazmur memperdengarkan suara kekuasaan, gambaran seperti ini adalah gambaran tentang kekuasaan yang luar biasa yang terwujud karena adanya raja yang diberkati.

Kekuasaan sering kali menjadi senjata bagi tangan bagi para pemimpin dan penguasa untuk memperbesar kekuasaan dan kekuatannya, bukan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan di tengah-tengah rakyatnya. Seperti halnya dalam video yang ditayangkan dalam Penelaahan Alkitab ini, dimana adanya penindasan terhadap orang miskin, masyarakat adat asli papua yang sudah miskin semakin diperas, yang haus semakin haus. Sangatlah miris ketika pemerintah seolah menutup mata dengan kondisi memprihatikan seperti ini. Kekuasaan sepatutnya adalah alat untuk memberikan keadilan bagi rakyat. Pemazmur memahami bahwa kekuasaan harus dijalankan berdasarkan Hukum dan keadilan Tuhan (ay 1-2). Kekuasaan itu harus tunduk kepada Firman Allah yang berpihak kepada kaum marginal.

Keadilan haruslah bersifat menyeluruh dan berpengaruh secara global, agar keadilan Tuhan yang berkuasa dalam setiap segmen kehidupan manusia, baik dalam hidup bermasyarakat, maka rakyat haruslah kuat, gereja bersama kelompok intelektual haruslah memperkuat keadilan atas hak-haknya. Pemazmur bukan mendoakan agar kekuasaan itu berlaku adil, akan tetapi dia berdoa kepada Tuhan agar keadilan yang berkuasa. Hukum dan keadilanlah yang menjadi panglima!

 

0 0 vote
Article Rating