“Kesempatan Mengerjakan Pekerjaan yang Besar dan Penting”
(1 Korintus 16 : 5-9)
Dalam PA yang di ambil dari 1 Korintus 16 : 5-9 ini, menceritakan tentang rencana pengumpulan bantuan untuk orang-orang Kristen di Yerusalem. Dan ketika jemaat Korintus mengumpulkan segala bantuan dan hal-hal penting secara teratur, saat itulah Paulus merencanakan untuk mengunjungi kota Korintus dan mengurusnya. Dan tidak hanya untuk mengurus bantuan, tapi Paulus juga melakukan hal-hal lainnya sesampainya Paulus di kota itu. Dalam konteks Alkitab ini menceritakan bagaimana Paulus dengan kesempatan yang dia punya, dapat mengerjakan pekerjaan sekalipun itu pekerjaan yang besar dan penting.
Dalam kehidupan kita juga sebagai warga Gereja sekaligus sebagai warga negara harus dan semestinya mempergunakan kesempatan yang kita punya untuk berguna terhadap sesama manusia. Dalam hal ini, memulai adalah kegiatan terpenting untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting itu dengan kesempatan yang kita miliki. Untuk menggunakan kesempatan itu di dalam lingkungan kehidupan kita, dilihat dari kondisi masa kini yang diambil dari masa Yerusalem yang banyak pergolakan dimasa itu. Seperti yang tertulis di Roma 15:26 “Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin diantara orang-orang kudus di Yerusalem” bagaimana kita sebagai kader GMKI dapat menjadi seperti Paulus yang mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting dimasa kini yang memberikan apa yang dia punya untuk membantu kaum-kaum tertindas.
Kita bisa meniru cara Paulus dalam perencanaanya untuk mempergunakan kesempatan yang dia punya. Ada beberapa cara perencanaan Paulus untuk mengerjaan pekerjaan yang besar dan penting :
1.Perencanaan yang detail
Dalam nats PA ini kita menemukan tidak kurang dari tiga keterangan tempat yang disebutkan secara eksplisit : Korintus, Makedonia, dan Efesus. Rute yang akan ditempuh juga cukup jelas, dari Efesus melintasi Makedonia ke Korintus.
Bukan hanya itu, beberapa keterangan waktu disebutkan oleh Paulus : musim dingin, hari raya Pentakosta membantu kita untuk menangkap kejelasan perencanaan yang dilakukan. Paulus bahkan menginformasikan bahwa ia ingin tinggal di Korintus lebih lama.
Kita tidak boleh menganggap perencanaan detail sebagai lawan dari persandaran total kepada Allah. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan para pengikut-Nya untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara matang-matang sebelum mengambil sebuah keputusan (Luk 14 : 28-32).
2.Mengutarakan Motivasi secara terbuka
Kehadiran Paulus ke Korintus bisa di salah pahami oleh sebagian orang. Sebagaimana kita ketahui, relasi Paulus dan beberapa orang disana tidak selalu berjalan baik (4:1-5). Mereka lebih memilih Petrus atau Apolos dibandingkan Paulus (1:12). Sekarang Paulus akan mengunjungi mereka, sedangkan Apolos tidak bisa datang (16:12). Kenginginan Paulus untuk menyelesaikan beberapa persoalan di sana (4: 19,21) juga mungkin bisa memperkeruh keadaan.
Ditengah situasi seperti ini, Paulus memilih untuk berjati-hati namun tetap terbuka. Pertama-tama dia mengungkapkan perhatiannya kepada jemaat Korintus. Korintus merupakan salah satu kota pelabuhan, Paulus tidak ingin hanya sekedar numpang lewat (ayat 7). Kehadirannya di kota itu bukan hanya sebuah rute perjalanan yang strategis. Dia memang ingin tinggal bersama-sama dengan jemaat disana. Yang dipentingkan Paulus bukan kota mereka melainkan jemaat. Paulus juga memberikan petunjuk durasi tinggal yang dia rencanakan. Dia mungkin akan menghabiskan beberapa bulan selama musim dingin bersama dengan mereka. Tidak lupa, Paulus dari awal mengungkapkan harapannya agar jemaat di Korintus memberikan bantuan materi untuk pelayanannya di tempat lain (ayat 6b). Kata “menolong” (propempo) secara hurufiah berarti “mengutus” (NASB/NRSV). Makna di balik kata ini memang bukan sekadar mengutus, melainkan juga menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk perjalanan tersebut, termasuk kelengkapan materi (uang, barang, teman perjalanan, dsb). Berdasarkan makna inilah banyak ahli Alkitab yang memilih terjemahan “menolong”. Permohonan bantuan ini cukup menarik, selama Paulus melayani di Korintus dia tidak mau menerima tunjangan hidup dari jemaat (9:1-18). Dia tidak mau kemajuan Injil terhalang hanya karena masalah materi. Namun, disini dia bukan hanya mau tetapi juga mengharapkan bantuan dari jemaat di sana. Bukan untuk kebutuhannya selama di Korintus, melainkan untuk kepentingan kota-kota lain. Paulus sangat mungkin sedang mengajarkan jemaat Korintus untuk peduli dengan jemaat-jemaat lain. Sama seperti mereka perlu memperhatikan kebutuhan orang-orang kudus di Yerusalem (16:1-2), demikian pula mereka perlu menyokong pekerjaan Tuhan di tempat lain (16:6b). Itulah sebabnya Paulus memilih kata propempo untuk menyiratkan bahwa dia dalam taraf tertentu merupakan utusan jemaat Korintus bagi jemaat-jemaat di kota lain.
3.Menyandarkan diri pada kehendak Allah
Mereka yang terbiasa menempuh perjalanan panjang pada masa kuno dulu pasti mengetahui bahwa ada banyak hal berada diluar kontrol manusia. Teknologi pelayaran belum secanggih sekarang. Ukuran kapal tidak sebesar dan setangguh yang sekarang. Pada momen-momen tertentu iklim menjadi sangat tidak bersahabat, sehingga pelayaran tidak tidak mungkin dilaksanakan. Intinya, alam seringkali menjadi halangan besar yang tidak mungkin dilawan. Paulus juga menyadari hal itu. Tidak peduli seberapa detail Paulus sudah merencanakan rute perjalanan, dia tetap harus memberi ruang untuk faktor-faktor yang tidak terduga dan tidak terhindarkan. Kata “mungkin” (tychon,ayat 6a) menyiratkan ketidakpastian dalam perjalanan kuno. Paulus bisa saja tiba di Korintus jauh sebelum musim dingin atau dekat dengan musim dingin. Jika berdekatan dengan musim dingin, Paulus akan menghabiskan musim itu di Korintus. Selain karna dia lebih lama bersama mereka, pelayaran selama musim dingin memang sangat sukar untuk dilakukan. Ombak yang besar dan malam yang lebih panjang memberikan kesulitan besar bagi para pelaut untuk melanjutkan perjalanan.
Ditengah semua keterbatasan dan ketidakpastian ini Paulus menambahkan “jika diperkenankan Tuhan” (ayat 7b). Sikap yang sama dia tunjukkan pada waktu dia memikirkan untuk mengunjungi kota Efesus (Kis 18:21). Dia membiarkan kehendak Allah yang mengarahkan seluruh kehidupan dan pelayanannya.
Ini merupakan kebiasaan rohani yang sangat baik. Yang ditentang oleh Alkitab bukanlah perencanaan yang tidak melibatkan Allah di dalamnya atau perencanaan yang dilandaskan pada asumsi bahwa manusia menentukan segala hal dalam kehidupannya (Yak 4: 13-17). Ini adalah sebuah kesombongan dan kebodohan.
4.Memanfaatkan kesempatan yang ada
Tidak semua rencana dapat langsung dikerjakan saat itu juga. Ada jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Tidak mudah berada dalam ketegangan seperti ini. Sebagian orang memilih untuk berpangku tangan sehingga tidak produktif selama masa penantian ini.
Tidak demikian dengan Paulus. Dia memang sangat ingin mengunjungi jemat Korintus (16:5-7), melanjutkan pelayanan ke tempat lain (16:6b), atau mengantarkan bantuan ke Yerusalem (16:4). Selama menunggu kesempatan itu, dia menggunakan kesempatan yang ada di depan matanya secara maksimal. Alasan mengapa Paulus belum mengeksekusi rencana kedatangannya ke Korintus diterangkan di ayat 8-9. Dia ingin memaksimalkan keadaan yang ada di Efesus terlebih duhulu. Secara hurufiah, ayat 9a berbunyi: “Sebab pintu telah terbuka bagiku secara besar dan efektif” (thyra gar moi aneogen megale kai energes).
Yang dimaksud dengan pintu terbuka disini bukan sekadar sebuah kesempatan saja, melainkan penerimaan yang positif terhadap Injil. Ada beberapa alasan untuk mendukung gagasan ini. Figurasi pintu terbuka (ayat 9a) dikontraskan dengan keberadaan para penentang (ayat 9b). Pintu terbuka ini diberi keterangan yang agak ganjal, yaitu “ secara efektif” (energes). Bukan hanya terbuka “dengan lebar” mengarah pada kesempatan, sedangkan pada hasil. Menunggu apa yang ada di depan bukan alasan untuk tidak melakukan apa-apa dimasa sekarang. Sebaliknya, setiap masa memiliki kesempatannya sendiri-sendiri. Apa yang ada di depan mata harus dimaksimalkan. Apa yang masih jauh di depan harus direncanakan secara sematang. Soli Deo Gloria !
Di era revolusi industri 4.0 ini, banyak waktu yang boleh kita pergunakan untuk melakukan pekerjaan yang besar dan penting. Menyabarkan kasih dengan menjadi berkat di lingkungan kita bahkan untuk negara ini. Tidak banyak orang yang seberuntung kita, oleh karena itu pergunakanlah waktu dan tetap berpengharapan.
Ut Omnes Unum Sint,
Syalom.