1. Latar Belakang Tema

Latar belakang tema GMKI kali ini merupakan lanjutan dari tema GMKI periode sebelumnya, yakni “Berdamailah Dengan Semua Ciptaan” dan subtema : “Membangun Budaya Damai dan Adil dalam Relasi dengan Semua Ciptaan Sebagai Wujud Persaudaraan di Negara Pancasila”. Tema GMKI kali ini diinternalisasikan dengan menerapkan teori norma salib (teori pembentukan norma yang mengutamakan keserasian dan keselarasan (harmoni) baik secara vertikal maupun horizontal). Yang dimaksud secara vertikal yakni tentang bagaimana kita sebagai organisasi kader melihat keberadaan dan panggilan kita (jati diri) dalam tradisi dan nilai-nilai teologis. Yang dimaksud secara horizontal yakni, bagaimana organisasi kader melihat perannya di tiga medan layan yaitu gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat ditengah kehidupan bermasyarat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini sejalan dengan motivasi pokok GMKI yaitu kesadaran terhadap lingkungannya dan panggilan Tuhannya, dimana kita menyadari bahwa jati diri GMKI dapat menangkap (impressi) setiap fenomena lingkungan di sekitarnya, yang kemudian ditanggap (expressi) melalui penggodokan iman.

Sebagai contoh: Dalam konas bitung didapati pergumulan nasional hasil kajian konas dibitung menunjukkan banyak pergumulan dari arus global yang membutuhkan keseriusan dan konsistensi dalam mencari solusinya. Beberapa hal yang menjadi pergumulan dalam KONAS Bitung adalah :

  • Perebutan Sumber Daya Alam (energi yang menimbulkan kesenjangan antar negara dan sesama manusia)
  • Bonus demografi (pertumbuhan penduduk usia produktif > non produktif)
  • Konflik agrarian (jumlah konflik agrarian meningkat 50% dari tahun 2016)
  • Kasus pelanggran HAM hingga kemajuan IPTEK yang ditandai dengan perjalanan industri 4.0 yang begitu cepat dan semakin mudah untuk diakses.

Dari persoalan-persoalan tersebut, GMKI diharapkan mampu untuk mengefektifkan waktu dalam memperbaharui model dan wujud kaderisasi yang lebih modern, mampu memanfaatkan potensi organisasi dan kecanggihan teknologi dalam menjalankan penatalayanannya dan senantiasa berpengharapan dalam mencari akar masalah dan jalan keluar atas setiap pergumulan organisasi dengan kacamata teologi (penggodokan imannya).

Dari latar belakang diatas maka lahirlah tema GMKI masa bakti 2018-2020 yakni : “Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan. Tema ini didasari pada dua teks: Pengkhotbah 3:1-15 dan Efesus 5:16, dan subtemanya: “Meneguhkan Iman, Harapan, dan Kasih Persaudaraan serta Mendayagunakan Potensi dalam Mempersiapkan Masa Depan yang Beradab dan Mandiri Menjelang Bonus Demografi”.

  1. Kajian Teologis Tema

Tema dan subtema GMKI saat ini yang ditekankan pada kata waktu, dimana waktu yang dimaksud disini untuk menggambarkan kehidupan manusia dalam menjalani hidup dibumi dan disini tidak sekadar menjangkau secara visioner-eskatologis tetapi bentangan waktu dari masa yang telah lewat, saat ini, dan kedepan dan waktu juga berbicara tentang kekekalan. Menurut Qohelet bahwa kehidupan itu sangat menarik karena hidup ini selalu berubah dan bervariasi, manusia diberikan kemampuan untuk melihat kebelakang maupun kedepan. Namun dibalik semua itu tetap ada kekekalan, kita sebagai manusia tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Keseluruhan waktu baik yang dimaksudkan Qohelet maupun Paulus, tidaklah membedakan antara waktu-waktu yang digunakan oleh manusia dan saat kehendak Allah hadir dalam waktu-waktu manusia atau sering disebut waktu Tuhan. Dimana waktu Tuhan yang dimaksud disini ketetapan yang dibuat Tuhan atas manusia baik secara pribadi maupun komunal.

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari kajian tema kita secara teologi waktu yaitu:

  • Waktu hadir sebagai sebuah pengulangan masa, peristiwa atau kejadian yang melibatkan GMKI atau dihadapi GMKI pada masa lalu bisa saja terulang kembali dalam masa kini, pada dasarnya situasi atau konteksnya pasti berbeda.
  • Dalam paradoks kehidupan, GMKI akan menghadapi kenyataan bahwa GMKI tidak mengendalikan waktu yang terus berjalan , oleh karena itu pada situasi saat ini GMKI harus menghargai waktu, secara arif agar GMKI dapat menata hidup untuk lebih baik lewat penataan organisasi, menghargai waktu sama dengan menghargai kehidupan.
  • Waktu hadir sebagai evaluasi diri bagi GMKI agar masalah yang terhadi pada masa lalu tidak terwariskan pada masa sekarang. Karena bila tidak, maka GMKI sama dengan manusia yang tidak menghargai kehidupan.
  • Waktu hadir sebagai pilihan dan kesempatan bagi GMKI untuk mengambil keputusan demi berlangsungnya organisasi .
  • Waktu juga hadir sebagai penanda dan pengingat agar GMKI bisa mengisi hidup yang bersinergi dengan waktu ini untu melakukan hal-hal yang bermanfaat.

 

  1. Sub-Tema : Meneguhkan Iman, Harapan dan Kasih Persaudaraan Serta Mendayagunakan Potensi dalam Mempersiapkan Masa Depan yang Mandiri Menjelang Bonus Demografi

Dalam kasih persaudaaran telah banyak disinggung dalam kitab Mazmur 133 yang membicarakan soal kasih persaudaraan. Persaudaraan yang dijelaskan dalam Mazmur 133 tentang ekspresi indah solidaritas kekeluargaan. Jika dimasukkan dalam konteks GMKI maka organisasi GMKI merupakan keluarga .

Pemaknaan keluarga dalam konteks GMKI sebagai rumah bersama untuk sikap keterbukaan atau inklusif dan humanis terhadap segala ciptaan, sejalan dengan dwiwatak GMKI tentang Oikumenisme dan Nasionalisme.

Potensi yang dimaksud didalam subtema adalah segala kemampuan yang dimiliki oleh GMKI, baik itu anggotanya maupun aset lainnya. GMKI memiliki potensi beragam yang bisa menjadi kekuatan penyanggah internal dan juga eksternal.

Akhirnya, tema dan subtema saat ini bertujuan untuk kader GMKI agar tetap menghargai waktu jika ingin menghargai kehidupan, dan waktu mengajarkan kita sebagai penanda dan pengingat sebuah moment yang terjadi di masa lalu agar tidak terjadi lagi dimasa sekarang. Waktu juga berperan sebagai kritik atas kehidupan GMKI untuk mengevaluasi perkembangan GMKI untuk keberlangsungan organisasi dengan cara meneguhkan iman, harapan, dan kasih persaudaraan di Indonesia, dan juga mendayagunakan potensi organisasi demi mempersiapkan masa depan yang beradab dan mandiri untuk menyambut bonus demografi

1.3 3 votes
Article Rating